• Mount Elizabeth

Bagaimana Cara Menurunkan Risiko Kanker Usus

Hentikan Kanker Usus

1. Pertahankan berat badan yang sehat dan kurangi konsumsi daging berlemak

Kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko kanker secara keseluruhan, dan lemak perut telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus, terlepas dari berat badan. Apakah ini berarti secara umum orang juga harus mengonsumsi lebih sedikit daging?


Daging adalah sumber protein, vitamin, dan mineral penting dalam pola makan kita. Penting untuk dicatat bahwa penelitian dalam literatur medis yang mengaitkan daging dengan risiko kanker kolorektal semuanya mengacu pada daging olahan dan daging merah. Daging putih umumnya diakui tidak terkait dengan peningkatan risiko kanker sama sekali. Meskipun tidak ada salahnya mengurangi konsumsi daging secara umum, apa yang saya sarankan adalah pendekatan yang lebih pragmatis dalam mengonsumsi daging dalam jumlah sedang dan lebih condong pada daging putih dibandingkan daging merah.


Daging olahan dalam bentuk apapun (baik merah maupun putih) dapat meningkatkan risiko kanker. Hal ini karena mutagen dan karsinogen terbentuk ketika daging dimasak pada suhu tinggi atau dipanggang menggunakan arang. Selain itu, nitrat/nitrit dan garam yang digunakan pada daging olahan menyebabkan terbentuknya nitrosamin yang karsinogenik.


Sebagai contoh, apakah Anda menyarankan untuk tidak mengonsumsi daging satu hari dalam seminggu?


Risiko untuk mengurangi konsumsi daging sangat kecil, bahkan jika itu hanya satu hari seminggu. Mengganti daging dengan ikan dan unggas merupakan awal yang baik. Alternatif lainnya adalah memilih porsi daging yang lebih kecil atau menggunakannya sebagai lauk tambahan, bukan sebagai lauk utama.


Apakah saran ini hanya untuk daging olahan?


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mengurangi konsumsi daging olahan dalam jangka panjang pasti akan mengurangi risiko seseorang terkena kanker kolorektal. Faktanya, bukti terkini menunjukkan bahwa konsumsi 50 gram daging olahan setiap hari akan meningkatkan risiko kanker kolorektal sebesar 15 – 20%!


Apa yang Anda golongkan sebagai ‘daging berlemak’?


Ini adalah istilah non-spesifik yang umumnya mengacu pada daging yang memiliki kandungan lemak berlebih. Terlalu banyak mengonsumsi daging berlemak lebih berhubungan dengan risiko obesitas/kelebihan berat badan, yang dikaitkan dengan peningkatan insiden kanker kolorektal, dibandingkan dengan efek karsinogenik.


2. Aktif secara fisik

Aktivitas fisik yang teratur dapat menurunkan risiko berbagai macam penyakit, termasuk kanker usus. Aktivitas fisik dengan intensitas sedang berkisar dari membersihkan rumah hingga berlari. Apakah ada pedoman untuk diikuti? Misalnya, aktivitas dengan intensitas sedang selama 15 menit setiap hari, seperti jalan cepat.


Olahraga teratur tidak hanya terkait dengan penurunan risiko kanker kolorektal. Olahraga secara jelas bermanfaat untuk menurunkan tingkat kematian dini dan insiden/kematian akibat berbagai jenis kanker. Penting untuk dicatat bahwa intensitas, durasi, dan frekuensi aktivitas fisik optimal yang diperlukan untuk mengurangi risiko kanker tidak diketahui. Rekomendasi yang diterima oleh sebagian besar organisasi kanker di seluruh dunia adalah aktivitas dengan intensitas sedang selama 300 menit atau aktivitas dengan intensitas berat selama 150 menit per minggu.


3. Asupan Vitamin D yang cukup

Asupan vitamin D yang sehat dapat menurunkan risiko kanker kolorektal dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup bagi penderita kanker kolorektal. Bagaimana kadar vitamin D yang sehat dapat mengurangi risiko kanker kolorektal?


Vitamin D memiliki efek pada inisiasi dan perkembangan kanker kolorektal. Vitamin D dapat menurunkan proliferasi sel, dan merangsang kematian sel kanker. Penelitian juga telah menunjukkan adanya efek anti inflamasi oleh Vitamin D.


Penelitian terbesar yang mengevaluasi efek vitamin D adalah Nurses' Health Study (NHS) dan Women's Health Initiative (WHI).


Secara umum, apakah wanita di Singapura kekurangan vitamin D?


Tidak. Hal ini karena iklim tropis sepanjang tahun yang jarang membuat orang diam di dalam ruangan dalam jangka waktu lama. Vitamin D diperoleh melalui paparan sinar UV pada kulit, makanan (susu dan sereal yang diperkaya dengan Vitamin D), dan suplemen. Penting untuk dicatat bahwa hubungan antara kanker kolorektal dan vitamin D tidak terbukti secara pasti. Kadar vitamin D sebesar 30 ng/ml umumnya tidak hanya direkomendasikan untuk pencegahan kanker, tetapi juga untuk kondisi kesehatan lainnya.


4. Batasi konsumsi daging merah, terutama daging olahan

Mengonsumsi terlalu banyak daging merah dapat meningkatkan risiko kanker usus dan daging olahan bahkan semakin meningkatkan risikonya.
Cobalah untuk mengonsumsi tidak lebih dari 3 porsi – lebih sedikit lebih baik.


Berikut ini adalah pedoman konsumsi yang sering digunakan: konsumsi daging merah sebanyak 100 g atau daging olahan sebanyak 50 g setiap hari dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal sebesar 15 – 20%. Orang dapat menghitung untuk menentukan seberapa banyak porsi dan jumlah masing-masing daging yang dapat dikonsumsi.


5. Aspirin

Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan aspirin dalam jangka panjang dapat menurunkan risiko kanker usus. Apakah dianjurkan untuk mengonsumsi lebih banyak aspirin?


Data tentang hubungan aspirin dengan penurunan kanker kolorektal belum dapat dipastikan. Aspirin telah dikaitkan dengan penurunan perkembangan lesi prekursor menjadi kanker kolorektal - polip adenomatosa. Namun, harus ditekankan bahwa bukti kuat tentang penggunaan aspirin pada orang sehat untuk menurunkan risiko kanker kolorektal belum tersedia. Sebagian besar pihak berwenang menganjurkan untuk berhati-hati sehubungan dengan penggunaan aspirin dalam hal pencegahan primer karena adanya risiko perdarahan.


Dapatkah aspirin dikonsumsi sebagai suplemen?


Berdasarkan data yang tersedia saat ini dalam literatur medis, aspirin tidak dapat direkomendasikan pada individu yang sehat sebagai sarana pencegahan kanker kolorektal. Hampir semua penelitian menunjukkan bahwa konsumsi aspirin secara teratur berkaitan dengan peningkatan risiko perdarahan gastrointestinal dan stroke hemoragik.


6. Banyak mengonsumsi bawang putih

Bukti menunjukkan bahwa pola makan yang kaya bawang putih dapat menurunkan risiko kanker usus. Berapa banyak bawang putih yang sebaiknya dikonsumsi?


Belum ada banyak bukti bahwa senyawa Allium yang terkandung dalam bawang putih dapat mencegah kanker. Kesimpulan sejauh ini hanya menyatakan bahwa ada kemungkinan hubungan tetapi sebagian besar didasarkan pada studi praklinis. Bahkan, penelitian terbaru yang melibatkan lebih dari 300.000 subjek menunjukkan bahwa konsumsi bawang putih tidak memberikan efek perlindungan.


Jika seseorang tidak menyukai rasa bawang putih, apakah mengonsumsi kapsul bawang putih juga bisa bermanfaat?


Jawaban singkat dan sederhana adalah tidak, tidak perlu mengonsumsinya.


Dr Dean Koh

Artikel dikontribusikan oleh Dr Dean Koh, Ahli Bedah Umum, Mount Elizabeth Novena Hospital. Dr. Koh memiliki minat khusus dalam pengobatan kanker usus dan rektum, terutama dalam menggunakan prosedur bedah laparoskopi kolorektal.


Artikel ini pertama kali diterbitkan di majalah Shape.


Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi hotline 24 jam Pusat Bantuan Pasien Mount Elizabeth di nomor +65 6250 0000 atau hubungi kami secara online untuk membuat janji temu dengan dokter spesialis.

Buat Perjanjian  Lihat Profil