27.AGU.2017 6 MNT DIBACA | 6 MNT DIBACA

Kanker prostat tersebar luas tetapi dapat dicegah melalui skrining dan pengobatan dini.

Jumlah kanker prostat telah meningkat, terutama di sebagian besar dunia Barat. Menurut Dr Gerald Tan, ahli urologi di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena, “Kanker prostat melampaui prevalensi kanker pria lainnya di Amerika, Eropa dan Australia.”

Dr. Tan menambahkan, “Kanker prostat dipercaya secara luas sebagai penyakit orang yang mapan." Hal ini dikarenakan pola makan Barat yang berperan besar dalam memicu penyakit karena konsumsi berlebihan terhadap daging merah, produk susu dan gluten (protein dalam biji-bijian sereal), yang merupakan makanan pokok di Barat. Dr. Tan mencatat bahwa di Jepang dan Korea Selatan, di mana orang mengonsumsi lebih sedikit makanan-makanan tersebut, kejadian kanker prostat jauh lebih rendah.

Meski demikian, Dr. Tan menekankan bahwa pola makan bukanlah satu-satunya faktor risiko untuk kanker prostat. “Faktor risiko besar lainnya adalah riwayat keluarga dengan kanker prostat.” Institut Kanker Nasional (National Cancer Institute - NCI) Amerika telah melaporkan bahwa 5 - 10% dari kasus kanker prostat berasal dari gen yang diturunkan.

Cara memeriksa kanker prostat

Dalam beberapa tahun terakhir, tes darah telah digunakan untuk memeriksa pasien yang tak bergejala. Tes-tes ini mengukur jumlah antigen-spesifik-prostat (prostate-specific antigen – PSA), yang merupakan protein yang diproduksi oleh kelenjar prostat, dalam aliran darah.

“Tes PSA sekarang secara universal digunakan sebagai penanda untuk memprediksi kemungkinan kanker prostat,” ujar Dr. Tan. Semakin tinggi kadar PSA, semakin besar risiko kanker prostat. Kuantitas PSA yang melebihi 10ng/mL dalam darah dikaitkan dengan kemungkinan 50% kanker prostat. Namun, Dr. Tan mengingatkan bahwa “tes ini tidak dapat memastikan apakah Anda menderita kanker prostat.”

Jika PSA dengan kadar yang tinggi terdeteksi dalam aliran darah Anda, pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan, seperti biopsi transrektal yang dipandu dengan ultrasonogram (transrectal ultrasound guided biopsy) – di mana jarum dimasukkan ke dalam dubur untuk mengekstraksi sampel jaringan dari kelenjar prostat.

Pengobatan: dari pemantauan hingga pembedahan

Jika pasien diketahui menderita kanker prostat, Dr. Tan menekankan bahwa mereka harus mengetahui bahwa kanker prostat adalah penyakit yang sangat bisa disembuhkan.

Misalnya, pasien stadium dini biasanya tidak memerlukan pengobatan tetapi hanya harus melakukan pemantauan aktif. “Untuk pasien-pasien ini, risiko kanker menyebar di luar prostat adalah sangat rendah,” kata Dr Tan. “Mereka hanya perlu melakukan tes PSA setiap beberapa bulan sekali dan biopsi setiap tahun untuk memastikan kanker tidak menjadi lebih ganas. Semakin dini kita menemukan kanker (penyebaran), semakin banyak saraf yang bisa kita pertahankan. ”

Dengan pemantauan aktif, banyak pasien kanker prostat berisiko rendah dapat menikmati kehidupan normal selama bertahun-tahun sebelum menjalani perawatan untuk kanker prostat.

Setelah kanker prostat mencapai stadium yang memerlukan perawatan, pembedahan sering kali merupakan pendekatan yang paling efektif. “Pembedahan itu sendiri atau dalam kombinasi dengan radiasi atau terapi hormon adalah landasan pengobatan untuk kanker prostat karena menawarkan tingkat kelangsungan hidup terbaik dalam jangka panjang,” kata Dr. Tan.

Pembedahan dengan bantuan robot, atau pembedahan robotik, sering kali merupakan pengobatan pilihan karena lebih unggul baik dari pembedahan invasif minimal dan pembedahan terbuka dalam hal kehilangan darah, kecepatan transfusi dan tingkat rasa sakit. Ini karena “instrumen robot lebih unggul dalam memvisualisasikan jaringan halus di sekitar prostat dan dapat berputar atau memutar dengan berbagai cara,” kata Dr. Tan.

Sebagai akibatnya, dokter bedah dapat secara tepat menargetkan area yang terkena dan meminimalkan kerusakan pada saraf di sekitarnya yang bertanggung jawab untuk kontrol urine dan fungsi ereksi. Dengan demikian, pasien dapat pulih lebih cepat dari inkontinensia urine (kebocoran urine yang tidak disengaja) dan disfungsi ereksi, yang merupakan efek samping yang umum dari pembedahan prostat konvensional.

 

Artikel dibuat oleh Dr Gerald Tan, ahli urologi di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena

27.AGU.2017
img
Tan Yau Min Gerald
Ahli Urologi
Mount Elizabeth Hospital

Dr Gerald Tan is a urology specialist at Mount Elizabeth Novena Hospital who is well known for his expertise in minimally invasive and robotic surgery and for prostate, kidney and bladder cancers.