21.SEP.2017 10 MNT DIBACA | 10 MNT DIBACA

Dengan ketersediaan teknik bedah invasi minimal yang makin baik, pasien sekarang dapat menikmati manfaat dari berbagai jenis pembedahan tanpa trauma yang disebabkan oleh sayatan besar yang diperlukan dalam operasi tradisional.

Dahulu, sayatan besar sering kali dibutuhkan untuk melakukan hampir semua pembedahan. Akan tetapi, dalam tahun-tahun belakangan ini, munculnya teknik invasi minimal memungkinkan dokter bedah memperbaiki hasil pembedahan dengan menghindari sayatan panjang. Dr Stephen Chang, dokter bedah umum di Rumah Sakit Mount Elizabeth, menjelaskan bagaimana perbaikan dalam bedah invasi minimal memungkinkan pasien mengalami masa pemulihan yang lebih singkat dan lebih sedikit rasa tidak nyaman, serta menggantikan kebutuhan akan operasi terbuka di banyak skenario klinis.

Menurut Dr. Chang, “Bedah invasi minimal pada dasarnya melibatkan beberapa sayatan kecil, sehingga trauma di kulit dan otot pasien berkurang.” Bahkan, ia menambahkan bahwa prosedur baru yang disebut bedah laparoskopi sayatan tunggal (SILS) menawarkan manfaat yang lebih besar hanya dengan satu sayatan.

Ini karena kemajuan dalam produksi instrumen bedah, yang menghasilkan alat lebih kecil dan dapat disesuaikan dengan struktur internal tubuh. “Berkat kemajuan ini, kita dapat memasukkan semua instrumen tersebut ke dalam satu sayatan kecil yang panjangnya 10 – 15 mm,” ujar Dr. Chang.

Manfaat SILS dibandingkan laparoskopi konvensional

Dibandingkan dengan laparoskopi tradisional, kelebihan SILS yang paling signifikan adalah sayatan tunggal, yang secara signifikan mengurangi nyeri, menurunkan risiko infeksi pada pasien, dan mempercepat pemulihan. Secara kosmetik, SILS juga lebih efektif daripada operasi laparoskopi konvensional karena tidak meninggalkan bekas luka yang terlihat. Oleh karena instrumen biasanya dimasukkan lewat pusar, bekas luka yang dihasilkan tertutup oleh pusar.

Dr. Chang mengatakan, “Pasien yang menjalani SILS lebih senang dengan hasil kosmetik dan persepsi rasa sakitnya.” Uji coba klinis yang memantau 100 pasien yang menjalani pengangkatan kantung empedu melalui SILS atau laparoskopi konvensional menunjukkan bahwa SILS lebih baik dalam mengurangi rasa sakit.

Lebih penting lagi, Dr. Chang menekankan bahwa SILS mengurangi risiko cedera saraf utama - komplikasi umum yang terkait dengan laparoskopi standar dan operasi terbuka. Sejauh ini, SILS adalah teknik yang berkembang pesat dan berhasil digunakan oleh dokter bedah untuk mengoperasi kantung empedu, hati, serta usus buntu dan pankreas.

Dalam perawatan kanker hati, SILS memberi manfaat tambahan untuk pasien yang kambuh dan membutuhkan operasi kedua. Supaya dapat melihat usus pasien dengan lebih baik, dokter bedah hanya perlu menambahkan sayatan yang sedikit lebih panjang dari sayatan laparoskopi tradisional. Dengan demikian, sayatan tunggal ini mengurangi risiko pelekatan, yaitu kondisi menempelnya bagian-bagian usus.

Keterbatasan SILS

Meskipun demikian, walau memiliki banyak manfaat, SILS tidak disarankan dalam semua kondisi. Sebagai contoh, beberapa pasien bertubuh tinggi tidak dapat menjalaninya kecuali dokter bedah memiliki instrumen yang cukup panjang untuk melakukan prosedur tersebut.

Selain itu, bentuk instrumen mungkin tidak sesuai untuk pembedahan yang melibatkan penjahitan 2 struktur di dalam tubuh. Dr. Chang memperingatkan, “Apabila posisi organ susah dijangkau, SILS menjadi opsi yang lebih menantang.” Untuk menyelesaikan masalah ini, ia menyarankan penggunaan bedah invasi minimal lainnya, dimana dokter bedah melakukan pembedahan dengan bantuan lengan robotik.

Akan tetapi, dalam kasus ketika tumor terlalu dekat dengan pembuluh dasar besar atau ketika ada inflamasi parah, Dr. Chang mengatakan bahwa SILS ataupun teknik invasi minimal lain tidak dapat dilakukan, sehingga pasien tetap membutuhkan pembedahan terbuka.

Meningkatkan Kesadaran tentang SILS

Dr. Chang percaya bahwa SILS akan membutuhkan beberapa waktu untuk menggantikan bedah laparoskopi konvensional sebagai praktik umum karena masih adanya proses pembelajaran. “Ada trik-trik tertentu yang perlu kita ketahui untuk mencegah komplikasi,” ujarnya.

Akan tetapi, Dr. Chang menambahkan bahwa “kunci untuk meningkatkan penerapan SILS adalah dengan meningkatkan kesadaran pasien.” Dengan mempromosikan manfaatnya, lebih banyak pasien akan meminta prosedur tersebut, sehingga lebih banyak dokter bedah yang terdorong untuk memperoleh keahlian dalam teknik ini.

 

Artikel dibuat oleh Dr Stephen Chang, dokter bedah umum di Rumah Sakit Mount Elizabeth

21.SEP.2017
img
Chang Kin Yong Stephen
Ahli Bedah Umum
Mount Elizabeth Hospital

Adj Associate Professor Stephen Chang is the founding President of the Hepatopancreatobiliary Association of Singapore. He graduated with MBBS in 1994 and obtained his Master of Medicine in Surgery in 2000 from the National University of Singapore and having obtained his Fellowship in Surgery from the Royal College of Surgeons of Edinburgh in 2003, went on to further training in Laparoscopic Hepatobiliary and Pancreatic Surgery and Liver Transplantation in Paris, France. He is a key developer of the laparoscopic approach to Hepatobiliary and Pancreatic Surgery in this region and is also active in developing the Living Donor Liver Transplant Program in Singapore.