Kanker Ovarium - Gejala & Penyebab

Apa Itu Kanker Ovarium?

Kanker indung telur atau kanker ovarium adalah kondisi yang diakibatkan oleh pertumbuhan jaringan yang tidak normal dalam indung telur (ovarium). Indung telur adalah bagian dari sistem reproduksi di mana sel telur diproduksi.

Terdapat tiga jenis utama kanker ovarium:

  • Tumor epitelial (epithelial), yang berkembang pada permukaan (epithelium) indung telur dan merupakan jenis paling umum.
  • Tumor sel germinal, yang berawal dari dalam sel yang memproduksi telur dan dapat ditemukan pada wanita berusia muda. Kanker jenis ini memiliki tingkat kesembuhan yang cukup tinggi.
  • Tumor stromal, yang berasal dari sel-sel yang memproduksi hormon kewanitaan, yaitu estrogen dan progesteron. Jenis kanker ovarium ini juga memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi.

Kanker ovarium cukup umum dijumpai pada wanita yang memasuki masa menopause. Di Indonesia, jumlah kasus baru kanker ovarium nyaris menyentuh angka 15.000 pada tahun 2020 menurut data Globocan. Kanker ovarium merupakan kanker terbanyak ketiga yang diderita wanita Indonesia, di bawah kanker payudara dan kanker serviks.

Maka dari itu, sangat disarankan bagi para wanita yang memasuki masa menopause untuk melakukan prosedur deteksi dini dan pemeriksaan berkala ke dokter spesialis ginekologi untuk mengantisipasi kanker indung telur. Hal ini berguna untuk meningkatkan peluang kesembuhan dibandingkan penanganan pada stadium lanjut.

Apa Gejala Kanker Ovarium?

Gejala kanker ovarium biasanya tidak tampak jelas pada stadium awal. Kebanyakan pasien baru merasakan gejala kanker ovarium pada stadium lanjut atau ketika kanker sudah menyebar ke organ lain. Selain itu, ciri-ciri kanker ovarium pada stadium lanjut pun tidak spesifik hanya ditemukan pada kanker ini dan dapat menyerupai penyakit lainnya.

Beberapa gejala kanker ovarium mencakup:

  • Pembengkakan dan rasa tidak nyaman di bagian perut (tekanan, sebah, atau kembung).
  • Perubahan kebiasaan buang air besar, seperti konstipasi atau sembelit.
  • Kehilangan selera makan atau berat badan menyusut.
  • Sakit punggung di bagian bawah.
  • Rasa nyeri sewaktu melakukan hubungan seksual.
  • Dispepsia, buang angin atau rasa mual yang terus-menerus.
  • Desakan untuk buang air kecil atau sering harus buang air kecil.
  • Perubahan siklus menstruasi jika masih mengalami menstruasi.

Mengingat gejala kanker ovarium cukup membingungkan untuk dipahami awam, maka sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis ginekologi untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan saran penanganan yang sesuai.

Apa Penyebab Kanker Ovarium?

Pada dasarnya penyebab kanker ovarium terkait dengan mutasi genetik pada sel-sel ovarium, meskipun penyebab mutasi genetik tersebut belum diketahui dengan pasti.

Apa Faktor Risiko Kanker Ovarium?

Namun demikian, ada faktor-faktor yang diidentifikasi dapat meningkatkan risiko terkena kanker ovarium:

  • Mengalami kehamilan pertama pada usia lanjut atau tidak pernah hamil.
  • Mengalami haid pada usia lanjut.
  • Memiliki anggota keluarga yang menderita kanker indung telur (khususnya jika mereka memiliki gen BRCA).
  • Mengalami endometriosis.
  • Pernah menderita kanker payudara.
  • Haid dimulai pada usia muda.
  • Menggunakan terapi penggantian hormon selama lebih dari lima tahun.
  • Mengalami obesitas pada masa remaja.

Apa Komplikasi Kanker Ovarium?

Komplikasi kanker ovarium dapat terjadi, terutama ketika sudah mencapai stadium lanjut di mana sel-sel kanker telah menyebar ke organ tubuh lain. Komplikasi yang mungkin muncul adalah:

  • Perforasi atau lubang pada usus.
  • Pembengkakan (edema) akibat penumpukan cairan di jaringan.
  • Penimbunan cairan di selaput paru-paru (efusi pleura).
  • Penyumbatan saluran kemih.
  • Penyumbatan usus.
  • Rasa lelah, mual, dan sembelit kronis.
  • Anemia.

Di samping itu, komplikasi juga dapat muncul akibat penanganan kanker ovarium, khususnya pembedahan. Komplikasi pascaprosedur ini meliputi infeksi, pembekuan darah, dan perdarahan.

Bagaimana Cara Mencegah Kanker Ovarium?

Langkah pencegahan kanker ovarium sulit dipastikan karena akar penyebab kanker ovarium belum diketahui. Namun begitu, ada beberapa hal yang dapat menurunkan risiko kanker ovarium:

  • Mengonsumsi pil KB kombinasi.
  • Pengikatan saluran tuba.
  • Tidak melakukan terapi penggantian hormon.
  • Mengadopsi gaya hidup sehat, khususnya mengonsumsi sayuran, vitamin A, dan vitamin C dalam jumlah yang cukup.
  • Tidak merokok.

Bagi wanita yang sudah memutuskan untuk tidak memiliki keturunan, terdapat pilihan prosedur pengangkatan ovarium untuk mengurangi kemungkinan terkena kanker ovarium. Begitu juga bagi wanita yang berisiko tinggi terhadap kanker ovarium (memasuki masa menopause, pernah menderita kanker, memiliki riwayat kanker ovarium dalam keluarga, atau menjalani terapi hormon), sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis ginekologi dan melakukan pemeriksaan rutin serta prosedur deteksi dini. Ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi kanker ovarium demi meningkatkan peluang kesembuhan.

This page has been reviewed by our medical content reviewers.

Need help?


For enquiries, please call
+65 6250 0000 (Orchard) or +65 6898 6898 (Novena)

For appointment bookings, please WhatsApp
+65 8111 7777 (Orchard) or +65 8111 5777 (Novena)